LIVE NEWSROOM 16.10.2026 Berita • Fakta • Perspektif
Inspirasi Anak Bangsa
BREAKING
Sigap, Satlantas Polres Rohul Evakuasi Pohon Tumbang di Jalan Lingkar Kilo Meter 4Kabar Baik Di Hari Jadi Ke 27 Rohul Bupati Anton Ekonomi Tumbuh 6,79%LAMR Rohul Anugerahkan Gelar Kehormatan kepada Bupati dan Wakil BupatiPolres Rohul Bersama Baznas Resmikan Rumah Layak Huni di Rambah Hilir Wujud Nyata Polisi Bersama MasyarakatLapas Pasir Pangarian Bentuk Tim Pencarian Warga Binaan Yang Melarikan Diri Dan Berkordinasi Dengan Aparat Penegak HukumKejari Rokan Hulu Musnahkan Barang Bukti 78 Perkara yang Sudah Berkekuatan Hukum TetapDR.Achmad M.Si Anggota DPR RI/MPR RI Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan Gandeng Generasi MudaBupati Anton Hadiri Wisuda XXV Universitas Pasir Pengaraian Di Islamic CenterDPC Demokrat Rohul Gelar Donor Darah di HUT ke-25 Partai DemokratBupati Rohul Diwakili Staf AhliI Wisuda XXV Universitas Pasir Pangaraian Di Islamic Center

Di Unpad, Firli Bahuri Ungkap Penyebab Korupsi Hingga Merembet Ke Poligami

Di Unpad, Firli Bahuri Ungkap Penyebab Korupsi Hingga Merembet Ke Poligami
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri saat memberikan kuliah umum di Universitas Padjajaran

Handalnews Riau, Bandung - Edukasi untuk memerangi bahaya korupsi terus digungkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri.

Seperti yang disampaikan di depan mahasiswa Universitas Padjajaran, Bandung beberapa waktu lalu, Firli Bahuri mengungkap setidaknya ada beberapa hal timbulnya perilaku korupsi.

Faktor keserakahan menjadi penentu seseorang berlaku koruptif. Menurutnya, meski hidup berkecukupan, koruptor selalu merasa tidak puas. Tak cuma soal materi, ketidakpuasan ini juga memicu hal lain.

"Istrinya pun tidak satu, ini empiris. Kalau pun punya istri satu, pacarnya lebih dari satu,” tegas Firli Bahuri merujuk Gone Theory yang dikemukakan Jack Bologne.

Keserakahan ini beririsan dengan kebutuhan gaya hidup. Dikatakan Firli, hal yang membuat koruptor merasa tidak pernah cukup adalah soal gaya hidup.

“Seharusnya cukup kebutuhan dengan satu istri, tapi karena istrinya lebih dari satu maka bertambah kebutuhannya,” sambungnya.

Hal lain yang menjadi pemicu praktik rasuah adalah soal kekuasaan. Dengan memiliki kekuasaan,para oknum pejabat bisa leluasa emmbuat kebijakan yang bisa memberi ruang untuk berbuat korupsi.

"Terakhir adalah kurangnya integritas. Orang yang mendapat penghargaan antikorupsi juga bisa terjerat kasus korupsi," tandasnya (***)

Sumber: hukum.rmol.id