LIVE NEWSROOM 06.09.2026 Berita • Fakta • Perspektif
Inspirasi Anak Bangsa
BREAKING
Polres Rohul Bersama Kejaksaan dan Pengadilan Musnahkan 961,5 Gram Sabu dan 229 Butir EkstasiLapas Pasir Pangarayan Perkuat Komunikasi dengan Warga Binaan Melalui Kegiatan Sambung RasaPenuh Keakraban dan Kekeluargaan, Polres Rohul dan DPC SPRI Berbagi Bansos di Desa Suka Maju, Semarak Maulid Nabi dan HUT Polwan ke-78Turnamen Mini Soccer Kajari Cup Rokan Hulu 2026 Resmi DibukaTurnamen Cup Mini Soccer Kejari Rokan Hulu 2026 Resmi DibukaPeduli Kesehatan di Tengah Kabut Asap,Polres Rohul dan Polsek Jajaran Bagikan Ribuan Masker kepada Pengguna JalanAtas Arahan Bupati Disdikpora Rokan Hulu Keluarkan Surat EdaranMitigasi Kebakaran, Lapas Pasir Pangarayan Pasang Stiker No Smoking dan Tetapkan Smoking AreaPolres Rohul Gelar Press Release, Bandar Narkotika di Rambah Ditangkap dengan Sabu 1,03 Kilogram dan 246 Butir EkstasiKalapas Pasir Pangarayan Hadiri Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor Bupati Rokan Hulu

Terkait Perang Suriah, Merkel-Macron ingin Temui Putin-Erdogan

Terkait Perang Suriah, Merkel-Macron ingin Temui Putin-Erdogan
Angela Merkel dan Emmanuel Macron ingin temui Vladimir Putin dan Recep Erdogan membahas perang Suriah (Reuters)

Jakarta -- Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron ingin bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Mereka ingin bertemu untuk membahas perang di Suriah.

Melansir AFP, Merkel dan Macron sudah menyampaikan keinginannya itu melalui sambungan telepon dengan Putin. Berdasarkan keterangan pers kantor Merkel, kanselir Jerman itu prihatin atas bencana yang menimpa penduduk Provinsi Idlib, Suriah.

"Merkel dan Macron menyerukan untuk segera mengakhiri pertempuran dan memberikan akses kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan," mengutip keterangan pers mereka.

Perang saudara di Suriah terjadi sejak 2011 silam. Rusia dan Turki terlibat praktis.

Rusia dan Iran mendukung rezim Presiden Bashar Al Assad. Sementara Turki bersama Amerika Serikat dan beberapa negara lain mendukung massa yang kontra terhadap pemerintah Assad.

Dalam sembilan tahun, jutaan warga sipil telah mengungsi. Sedikitnya 380 ribu orang terbunuh akibat perang tersebut.

Terbaru, Rusia menolak gencatan senjata seperti yang dikehendaki PBB. Rusia juga meminta Turki agar berhenti memberi bantuan terhadap kalangan pemberontak.

Kami mendesak Turki untuk menghindari insiden agar menghentikan pemberian bantuan kepada kelompok teroris dan menyerahkan senjata mereka," tutur Kementerian Pertahanan Rusia, mengutip AFP, Kamis (20/2).

Presiden Bashar Al Assad juga mengklaim telah memenangkan pertempuran di sejumlah wilayah. Terutama di Aleppo dan Idlib. Berkaca dari itu, dia optimis bisa menghentikan kalangan pemberontak di wilayah lain.

Sumber: CNN Indonesia