LIVE NEWSROOM 26.10.2026 Berita • Fakta • Perspektif
Inspirasi Anak Bangsa
BREAKING
Memperingati Hari Jadi ke-27 Kabupaten Rokan Hulu adakan acara Tabligh AkbarWarga Binaan Lapas Pasir Pangarayan Ikuti Tabligh Akbar Bersama Ustadz Abdul Somad Secara VirtualHUT Humas Polri ke-75,Polres Rokan Hulu Gelar Donor Darah,Kumpulkan 34 Kantong Darah untuk KemanusiaanHUT Humas Polri ke-75, Polres Rohul Salurkan Bansos Berupa Sembako untuk Masyarakat Desa Koto TinggiJob Fair Rohul Diserbu Ribuan Pencari Kerja, Bukti Nyata Janji Kampanye Anton-PotiSigap, Satlantas Polres Rohul Evakuasi Pohon Tumbang di Jalan Lingkar Kilo Meter 4Kabar Baik Di Hari Jadi Ke 27 Rohul Bupati Anton Ekonomi Tumbuh 6,79%DPRD Rokan Hulu Gelar Paripurna Istimewa, Hari Jadi ke-27 Kabupaten Rokan HuluLAMR Rohul Anugerahkan Gelar Kehormatan kepada Bupati dan Wakil BupatiPolres Rohul Bersama Baznas Resmikan Rumah Layak Huni di Rambah Hilir Wujud Nyata Polisi Bersama Masyarakat

Terkait Perang Suriah, Merkel-Macron ingin Temui Putin-Erdogan

Terkait Perang Suriah, Merkel-Macron ingin Temui Putin-Erdogan
Angela Merkel dan Emmanuel Macron ingin temui Vladimir Putin dan Recep Erdogan membahas perang Suriah (Reuters)

Jakarta -- Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron ingin bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Mereka ingin bertemu untuk membahas perang di Suriah.

Melansir AFP, Merkel dan Macron sudah menyampaikan keinginannya itu melalui sambungan telepon dengan Putin. Berdasarkan keterangan pers kantor Merkel, kanselir Jerman itu prihatin atas bencana yang menimpa penduduk Provinsi Idlib, Suriah.

"Merkel dan Macron menyerukan untuk segera mengakhiri pertempuran dan memberikan akses kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan," mengutip keterangan pers mereka.

Perang saudara di Suriah terjadi sejak 2011 silam. Rusia dan Turki terlibat praktis.

Rusia dan Iran mendukung rezim Presiden Bashar Al Assad. Sementara Turki bersama Amerika Serikat dan beberapa negara lain mendukung massa yang kontra terhadap pemerintah Assad.

Dalam sembilan tahun, jutaan warga sipil telah mengungsi. Sedikitnya 380 ribu orang terbunuh akibat perang tersebut.

Terbaru, Rusia menolak gencatan senjata seperti yang dikehendaki PBB. Rusia juga meminta Turki agar berhenti memberi bantuan terhadap kalangan pemberontak.

Kami mendesak Turki untuk menghindari insiden agar menghentikan pemberian bantuan kepada kelompok teroris dan menyerahkan senjata mereka," tutur Kementerian Pertahanan Rusia, mengutip AFP, Kamis (20/2).

Presiden Bashar Al Assad juga mengklaim telah memenangkan pertempuran di sejumlah wilayah. Terutama di Aleppo dan Idlib. Berkaca dari itu, dia optimis bisa menghentikan kalangan pemberontak di wilayah lain.

Sumber: CNN Indonesia