LIVE NEWSROOM 01.09.2026 Berita • Fakta • Perspektif
Inspirasi Anak Bangsa
BREAKING
Peduli Kesehatan di Tengah Kabut Asap,Polres Rohul dan Polsek Jajaran Bagikan Ribuan Masker kepada Pengguna JalanAtas Arahan Bupati Disdikpora Rokan Hulu Keluarkan Surat EdaranMitigasi Kebakaran, Lapas Pasir Pangarayan Pasang Stiker No Smoking dan Tetapkan Smoking AreaPolres Rohul Gelar Press Release, Bandar Narkotika di Rambah Ditangkap dengan Sabu 1,03 Kilogram dan 246 Butir EkstasiKalapas Pasir Pangarayan Hadiri Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor Bupati Rokan HuluPenurunan Bendera Merah Putih di HUT ke-81 RI di Rokan Hulu Berjalan SuksesSPRI Rokan Hulu Berbagi di Dua Panti Asuhan, Semarakkan HUT RI ke-81 dengan KepedulianRapat Anggota Primkopasindo Lapas Pasir Pangarayan Bahas Agenda Kemajuan KoperasiKakanwil Ditjenpas Riau Tinjau Lapas Pasir Pangarayan, Tekankan Disiplin dan Zero HALINARLapas Pasir Pangarayan Tegaskan Komitmen Berantas Pelanggaran, Bantah Dugaan Praktik Ilegal

VIRAL Guru Garis Depan, Gendong Bayi Taklukan Jalanan Berlumpur

VIRAL Guru Garis Depan, Gendong Bayi Taklukan Jalanan Berlumpur

Handalnews - Foto seorang guru yang menggendong bayinya di jalanan berlumpur menuju SMP Negeri 4 Pante Bidari, di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur banyak dibagikan di media sosial.

Foto tersebut diketahui dipotret pada akhir 2019 lalu, dan baru heboh setelah diunggah oleh akun facebook @atjehtimeline.

Melansir dari kompascom, Kepala sekolah SMP Negeri 4 Pante Bidadari, Islahuddin mengungkapkan, foto viral itu benar seorang guru, namanya Husnul Khatimah. Husnul Khatimah berjalan ke sekolah bersama suami dan anaknya.

Guru tersebut berstatus sebagai guru garis depan angkatan kedua asal Meulaboh, Aceh Barat.

“Ketika musim hujan memang begitulah kondisi jalan menuju sekolah. Penuh lumpur dan sulit dilalui,” kata Islahuddin yang menjabat sejak 2016 tersebut.

Kalau naik mobil baru bisa itu mobil doble cabin,” lanjutnya.

Saat ini, SMP Negeri 4 Pante Bidadari memiliki 52 pelajar dari tiga desa yaitu Desa Sijudo, Saragala, dan Sijuk, Kecamatan Pante Bidari.

Jumlah itu diajar oleh 17 guru, 11 diantaranya berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Cerita perjuangan guru di pedalaman berbatasan langsung dengan hutan itu belum usai di jalan rusak.

Mereka harus rela menginap di sekolah jika musim penghujan tiba.

Pasalnya, jalan rusak membuat guru tak bisa menuju sekolah.

Jarak antara jalan raya Medan-Banda Aceh menuju sekolah itu tiga jam naik sepeda motor. Kondisi jalan berkubang dan berlubang.

Kalau musim hujan kami nginap di sekolah,” kata Islahuddin.

“Ada satu rumah dinas guru kita sulap jadi kamar, para guru lajang masing-masing satu kamar, satu untuk wanita, satu untuk pria.”

“Kalau guru berkeluarga dan ada anak bayi, diberi satu kamar lagi.”

Progres perbaikan jalan,Dia menyebutkan, kondisi itu dilakukan untuk tetap bisa mengajar.

 

 

 

Sumber: Infokemendikbud